Belum lama ini terjadi kasus kekerasan massal terhadap anak di bawah umur yang menarik perhatian. Pelaku kekerasan merekam video saat memukuli korban, bahkan berteriak di depan umum: “Saya belum 16 tahun, silakan lapor polisi.” Kata-kata ini tampak sombong, tetapi sebenarnya mencerminkan masalah yang lebih dalam—kesadaran pelaku kekerasan di bawah usia 18 tahun tentang tanggung jawab hukum mereka sangat keliru. Polisi segera menangani kasus ini, tetapi kemudian muncul beberapa video kekerasan dari teman pelaku, menunjukkan bahwa masalah ini jauh lebih kompleks daripada satu kejadian saja.
Pelaku kekerasan berani menantang hukuman, di baliknya adalah salah paham mendasar tentang hukum
Detail paling mencolok dari kejadian ini adalah pernyataan percaya diri dari pelaku kekerasan. Mereka mengira bahwa karena mereka belum berusia 16 tahun, mereka tidak perlu bertanggung jawab atas tindakan kekerasan tersebut. Tetapi ini adalah salah paham mendasar tentang hukum.
Hukum di Tiongkok menetapkan bahwa anak yang berusia minimal 12 tahun harus menanggung tanggung jawab hukum yang sesuai, dan usia 16 tahun adalah batas penting lainnya—yang berarti cakupan tanggung jawab semakin luas. Namun, “tidak dilakukan penahanan administratif” tidak sama dengan “tidak diproses secara hukum.” Faktanya, meskipun polisi tidak melakukan penahanan administratif karena mereka di bawah 16 tahun, pelaku tetap dicatat dalam catatan kriminal, dan orang tua serta sekolah harus bertanggung jawab atas pengawasan mereka.
Anak-anak di bawah umur berani berbuat demikian karena mereka kurang memahami arti sebenarnya dari batas usia hukum “18 tahun” dan “16 tahun.” Bukan berarti usia muda otomatis bebas dari hukuman, tetapi bentuk tanggung jawabnya bisa berbeda—misalnya, ganti rugi secara perdata, pendidikan keluarga, atau rehabilitasi komunitas tetap berlaku.
Dari sekolah ke dunia maya: bentuk kekerasan yang terorganisasi
Lebih mengkhawatirkan lagi, ini bukan kejadian tunggal. Video-video yang kemudian beredar menunjukkan bahwa pelaku yang sama berulang kali mengeroyok orang lain. Ini menunjukkan bahwa kekerasan berkelompok di luar sekolah sudah mulai terorganisasi.
Anak-anak ini memiliki pembagian tugas, saling memahami, dan pola berulang dalam melakukan kejahatan. Mereka tidak hanya mengorganisasi kekerasan, tetapi juga aktif merekam dan menyebarkan video. Penyebaran video ini sendiri merupakan bentuk luka kedua bagi korban—bukan hanya luka fisik, tetapi juga trauma psikologis dan penghancuran harga diri sosial.
Dari fenomena ini, muncul tiga masalah utama:
Aspek hukum: anak-anak kurang memahami batasan hukum
Aspek pendidikan: kekurangan pengawasan dari keluarga dan sekolah
Aspek sosial: penyebaran di internet memperbesar dan meniru kekerasan
Sikap yang benar dalam menegakkan hak korban
Bagaimana seharusnya korban yang dikeroyok merespons? Kuncinya adalah mengambil langkah-langkah perlindungan hak secara sistematis:
Lapor polisi segera: Melindungi bukti di tempat kejadian, dan pelaporan ke polisi memiliki kekuatan hukum.
Lakukan identifikasi luka: Bukti medis adalah dasar utama untuk ganti rugi secara perdata.
Simpan bukti lengkap: Video, rekaman chat, kesaksian saksi harus disimpan dengan baik.
Lapor ke instansi pendidikan: Jika pelaku adalah siswa dari sekolah yang sama, sekolah juga harus bertanggung jawab dalam pendidikan.
Ajukan perintah perlindungan keamanan pribadi: Jika terus-menerus menerima ancaman, lembaga peradilan dapat turun tangan untuk melindungi.
Gugat ganti rugi secara perdata: Meski penahanan administratif tidak dilaksanakan, ganti rugi secara perdata tetap berlaku dan dapat ditanggung orang tua.
Transparansi aturan, kunci menghilangkan ruang abu-abu
Inti dari kasus ini mencerminkan masalah sistem: ketika aturan tidak cukup jelas dan pelaksanaan kurang transparan, akan muncul ruang abu-abu di mana orang merasa bisa “menghindar dari tanggung jawab.”
Anak-anak berani berbuat sombong karena mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang “konsekuensi.” Jika aturan tegas, dapat dilacak pelaksanaannya, dan hasilnya transparan, keinginan untuk lolos dari hukuman akan berkurang secara signifikan.
Ketertiban berasal dari dua faktor: pertama, aturan harus jelas dan mudah dipahami; kedua, pelaksanaan harus tidak dapat diubah. Dalam sistem tradisional ini sulit diwujudkan, tetapi dalam sistem yang berbasis blockchain dan sistem deterministik lainnya, aturan dapat tertulis langsung dalam kontrak. Seperti jaringan dasar FOGO yang menekankan performa tinggi dan eksekusi pasti, inti nilainya adalah—membuat tindakan memiliki batas yang jelas dan hasil yang sepenuhnya dapat dilacak, tanpa ruang abu-abu.
Logika ini tidak hanya berlaku di dunia digital, tetapi juga memberi inspirasi bagi sistem hukum nyata: hanya dengan desain sistem yang lebih transparan dan pelaksanaan yang lebih terbuka, pelaku pelanggaran akan lebih kecil peluangnya untuk merasa aman. Ketika setiap orang tahu dengan pasti “apa konsekuensi dari tindakan ini” dan “hasilnya tidak bisa diubah,” itulah kekuatan nyata dari pencegahan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Apakah bisa melakukan kejahatan sebelum berusia 18 tahun? Sebuah insiden perkelahian massal mengungkap celah dalam pemahaman hukum
Belum lama ini terjadi kasus kekerasan massal terhadap anak di bawah umur yang menarik perhatian. Pelaku kekerasan merekam video saat memukuli korban, bahkan berteriak di depan umum: “Saya belum 16 tahun, silakan lapor polisi.” Kata-kata ini tampak sombong, tetapi sebenarnya mencerminkan masalah yang lebih dalam—kesadaran pelaku kekerasan di bawah usia 18 tahun tentang tanggung jawab hukum mereka sangat keliru. Polisi segera menangani kasus ini, tetapi kemudian muncul beberapa video kekerasan dari teman pelaku, menunjukkan bahwa masalah ini jauh lebih kompleks daripada satu kejadian saja.
Pelaku kekerasan berani menantang hukuman, di baliknya adalah salah paham mendasar tentang hukum
Detail paling mencolok dari kejadian ini adalah pernyataan percaya diri dari pelaku kekerasan. Mereka mengira bahwa karena mereka belum berusia 16 tahun, mereka tidak perlu bertanggung jawab atas tindakan kekerasan tersebut. Tetapi ini adalah salah paham mendasar tentang hukum.
Hukum di Tiongkok menetapkan bahwa anak yang berusia minimal 12 tahun harus menanggung tanggung jawab hukum yang sesuai, dan usia 16 tahun adalah batas penting lainnya—yang berarti cakupan tanggung jawab semakin luas. Namun, “tidak dilakukan penahanan administratif” tidak sama dengan “tidak diproses secara hukum.” Faktanya, meskipun polisi tidak melakukan penahanan administratif karena mereka di bawah 16 tahun, pelaku tetap dicatat dalam catatan kriminal, dan orang tua serta sekolah harus bertanggung jawab atas pengawasan mereka.
Anak-anak di bawah umur berani berbuat demikian karena mereka kurang memahami arti sebenarnya dari batas usia hukum “18 tahun” dan “16 tahun.” Bukan berarti usia muda otomatis bebas dari hukuman, tetapi bentuk tanggung jawabnya bisa berbeda—misalnya, ganti rugi secara perdata, pendidikan keluarga, atau rehabilitasi komunitas tetap berlaku.
Dari sekolah ke dunia maya: bentuk kekerasan yang terorganisasi
Lebih mengkhawatirkan lagi, ini bukan kejadian tunggal. Video-video yang kemudian beredar menunjukkan bahwa pelaku yang sama berulang kali mengeroyok orang lain. Ini menunjukkan bahwa kekerasan berkelompok di luar sekolah sudah mulai terorganisasi.
Anak-anak ini memiliki pembagian tugas, saling memahami, dan pola berulang dalam melakukan kejahatan. Mereka tidak hanya mengorganisasi kekerasan, tetapi juga aktif merekam dan menyebarkan video. Penyebaran video ini sendiri merupakan bentuk luka kedua bagi korban—bukan hanya luka fisik, tetapi juga trauma psikologis dan penghancuran harga diri sosial.
Dari fenomena ini, muncul tiga masalah utama:
Sikap yang benar dalam menegakkan hak korban
Bagaimana seharusnya korban yang dikeroyok merespons? Kuncinya adalah mengambil langkah-langkah perlindungan hak secara sistematis:
Lapor polisi segera: Melindungi bukti di tempat kejadian, dan pelaporan ke polisi memiliki kekuatan hukum.
Lakukan identifikasi luka: Bukti medis adalah dasar utama untuk ganti rugi secara perdata.
Simpan bukti lengkap: Video, rekaman chat, kesaksian saksi harus disimpan dengan baik.
Lapor ke instansi pendidikan: Jika pelaku adalah siswa dari sekolah yang sama, sekolah juga harus bertanggung jawab dalam pendidikan.
Ajukan perintah perlindungan keamanan pribadi: Jika terus-menerus menerima ancaman, lembaga peradilan dapat turun tangan untuk melindungi.
Gugat ganti rugi secara perdata: Meski penahanan administratif tidak dilaksanakan, ganti rugi secara perdata tetap berlaku dan dapat ditanggung orang tua.
Transparansi aturan, kunci menghilangkan ruang abu-abu
Inti dari kasus ini mencerminkan masalah sistem: ketika aturan tidak cukup jelas dan pelaksanaan kurang transparan, akan muncul ruang abu-abu di mana orang merasa bisa “menghindar dari tanggung jawab.”
Anak-anak berani berbuat sombong karena mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang “konsekuensi.” Jika aturan tegas, dapat dilacak pelaksanaannya, dan hasilnya transparan, keinginan untuk lolos dari hukuman akan berkurang secara signifikan.
Ketertiban berasal dari dua faktor: pertama, aturan harus jelas dan mudah dipahami; kedua, pelaksanaan harus tidak dapat diubah. Dalam sistem tradisional ini sulit diwujudkan, tetapi dalam sistem yang berbasis blockchain dan sistem deterministik lainnya, aturan dapat tertulis langsung dalam kontrak. Seperti jaringan dasar FOGO yang menekankan performa tinggi dan eksekusi pasti, inti nilainya adalah—membuat tindakan memiliki batas yang jelas dan hasil yang sepenuhnya dapat dilacak, tanpa ruang abu-abu.
Logika ini tidak hanya berlaku di dunia digital, tetapi juga memberi inspirasi bagi sistem hukum nyata: hanya dengan desain sistem yang lebih transparan dan pelaksanaan yang lebih terbuka, pelaku pelanggaran akan lebih kecil peluangnya untuk merasa aman. Ketika setiap orang tahu dengan pasti “apa konsekuensi dari tindakan ini” dan “hasilnya tidak bisa diubah,” itulah kekuatan nyata dari pencegahan.
Ketertiban dimulai dari kejelasan.