Harga Bitcoin Turun Menembus $90.000 Secara Psikologis
Harga Bitcoin kembali tertekan, pertama kali menembus level psikologis $90.000. Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang meningkat, setelah Mahkamah Agung AS menunda keputusan terkait kebijakan tarif presiden.
Berdasarkan data TradingView, Bitcoin sempat menyentuh titik terendah harian di $89.800, dengan penurunan lebih dari 2% dalam satu hari, dari puncak sekitar $93.000. Penurunan ini hampir menghapus seluruh kenaikan tahunan, dengan kenaikan sejak awal tahun(YTD)hanya sekitar 2%.
Faktor Pemicu Penurunan Harga Bitcoin
Mahkamah Agung AS gagal memberikan keputusan pada tanggal yang dijadwalkan untuk kasus gugatan tarif. Dari tiga putusan yang dirilis hari itu, tidak ada yang terkait dengan masalah tarif, yang memperpanjang ketidakpastian mengenai kewenangan presiden dalam menetapkan kebijakan tarif impor.
Situasi memburuk karena rencana pemerintah AS untuk memberlakukan tarif 10% mulai 1 Februari terhadap beberapa negara Eropa termasuk Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Finlandia, dan Swedia. Jika Mahkamah Agung mendukung kebijakan tarif ini, pasar menganggap langkah ini dapat memberi tekanan pada aset berisiko termasuk Bitcoin dan seluruh pasar cryptocurrency.
Selain faktor AS, tekanan dari Asia juga turut mempengaruhi Bitcoin. Pasar bereaksi terhadap kekhawatiran bahwa Bank Sentral Jepang mungkin akan menaikkan suku bunga lebih lanjut setelah sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank of Japan. Hal ini dianggap dapat memicu keruntuhan strategi arbitrase yen dan memicu penjualan di aset global.
Ketidakpastian Ekonomi Makro dan Prospek Kebijakan Tarif
Ketidakpastian di Jepang meningkat akibat kenaikan hasil obligasi pemerintah, yang terjadi setelah Perdana Menteri Yoshihide Suga mengumumkan rencana pemilihan dini untuk meningkatkan pengeluaran fiskal.
Data dari Polymarket menunjukkan bahwa peluang Mahkamah Agung AS mendukung kebijakan tarif Trump kini mencapai 37%, meningkat tajam dari sekitar 28% sebelumnya. Kenaikan peluang ini juga menekan sentimen pasar kripto.
Kebijakan tarif Trump sebelumnya juga menjadi salah satu faktor pemicu penyesuaian tajam Bitcoin akhir tahun lalu. Pada 10 Oktober lalu, setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% pada barang-barang dari China, pasar kripto mengalami penurunan besar.
Di sisi lain, beberapa analis tetap pesimis. Analis teknikal senior Peter Brandt memprediksi harga Bitcoin masih berpotensi turun lebih jauh ke kisaran $58.000 hingga $62.000.
Di tengah tekanan ini, para pelaku pasar juga mulai menurunkan ekspektasi rebound jangka pendek. Data dari Polymarket menunjukkan bahwa peluang Bitcoin menembus $100.000 sebelum akhir bulan kini hanya tersisa 12%, mencerminkan berkurangnya optimisme investor terhadap tren harga jangka pendek.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ketidakpastian kebijakan tarif AS menekan, Bitcoin menembus level dukungan utama $90.000
Sumber: TokocryptoBlog Judul Asli: Drama Tarif Trump Berlanjut, Bitcoin Kehilangan Level Kunci $90.000 Tautan Asli:
Harga Bitcoin Turun Menembus $90.000 Secara Psikologis
Harga Bitcoin kembali tertekan, pertama kali menembus level psikologis $90.000. Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang meningkat, setelah Mahkamah Agung AS menunda keputusan terkait kebijakan tarif presiden.
Berdasarkan data TradingView, Bitcoin sempat menyentuh titik terendah harian di $89.800, dengan penurunan lebih dari 2% dalam satu hari, dari puncak sekitar $93.000. Penurunan ini hampir menghapus seluruh kenaikan tahunan, dengan kenaikan sejak awal tahun(YTD)hanya sekitar 2%.
Faktor Pemicu Penurunan Harga Bitcoin
Mahkamah Agung AS gagal memberikan keputusan pada tanggal yang dijadwalkan untuk kasus gugatan tarif. Dari tiga putusan yang dirilis hari itu, tidak ada yang terkait dengan masalah tarif, yang memperpanjang ketidakpastian mengenai kewenangan presiden dalam menetapkan kebijakan tarif impor.
Situasi memburuk karena rencana pemerintah AS untuk memberlakukan tarif 10% mulai 1 Februari terhadap beberapa negara Eropa termasuk Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Finlandia, dan Swedia. Jika Mahkamah Agung mendukung kebijakan tarif ini, pasar menganggap langkah ini dapat memberi tekanan pada aset berisiko termasuk Bitcoin dan seluruh pasar cryptocurrency.
Selain faktor AS, tekanan dari Asia juga turut mempengaruhi Bitcoin. Pasar bereaksi terhadap kekhawatiran bahwa Bank Sentral Jepang mungkin akan menaikkan suku bunga lebih lanjut setelah sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank of Japan. Hal ini dianggap dapat memicu keruntuhan strategi arbitrase yen dan memicu penjualan di aset global.
Ketidakpastian Ekonomi Makro dan Prospek Kebijakan Tarif
Ketidakpastian di Jepang meningkat akibat kenaikan hasil obligasi pemerintah, yang terjadi setelah Perdana Menteri Yoshihide Suga mengumumkan rencana pemilihan dini untuk meningkatkan pengeluaran fiskal.
Data dari Polymarket menunjukkan bahwa peluang Mahkamah Agung AS mendukung kebijakan tarif Trump kini mencapai 37%, meningkat tajam dari sekitar 28% sebelumnya. Kenaikan peluang ini juga menekan sentimen pasar kripto.
Kebijakan tarif Trump sebelumnya juga menjadi salah satu faktor pemicu penyesuaian tajam Bitcoin akhir tahun lalu. Pada 10 Oktober lalu, setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% pada barang-barang dari China, pasar kripto mengalami penurunan besar.
Di sisi lain, beberapa analis tetap pesimis. Analis teknikal senior Peter Brandt memprediksi harga Bitcoin masih berpotensi turun lebih jauh ke kisaran $58.000 hingga $62.000.
Di tengah tekanan ini, para pelaku pasar juga mulai menurunkan ekspektasi rebound jangka pendek. Data dari Polymarket menunjukkan bahwa peluang Bitcoin menembus $100.000 sebelum akhir bulan kini hanya tersisa 12%, mencerminkan berkurangnya optimisme investor terhadap tren harga jangka pendek.